ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT SPACEPromote your brand on SocialoudReach readers with a focused editorial placement.
Beranda/News

Gunung Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali dalam Semalam, Warga Diminta Jauhi Radius 5 Kilometer

6ae2abea64ea0
 


 

LAMPUNG, SOCIALOUD.ID — Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami tiga kali erupsi pada Rabu (28/10/2026) malam. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diimbau tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas erupsi terekam melalui seismograf, meskipun visual letusan tidak teramati.

Erupsi pertama tercatat pada pukul 22.37 WIB dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 233 detik atau sekitar 3 menit 53 detik. Erupsi kedua terjadi pada pukul 22.42 WIB dan masih berlangsung saat laporan pengamatan dibuat.

Sementara itu, erupsi ketiga tercatat pada pukul 23.29 WIB dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 573 detik atau sekitar 9 menit 33 detik.

“Erupsi Anak Krakatau pada Rabu malam terekam di seismograf, tetapi visual letusannya tidak teramati,” ujar Suwarno, Kamis (29/10/2026).

Radius Aman dan Potensi Bahaya

Suwarno mengingatkan masyarakat agar mematuhi rekomendasi petugas dan tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Selain itu, masyarakat dan pengunjung diminta tidak memasuki radius satu kilometer dari pulau-pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.

Petugas juga mengingatkan adanya potensi bahaya berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder yang dapat terjadi akibat kontak material lava panas dengan air laut maupun air hujan.

Warga pesisir Lampung dan Banten diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, terutama informasi yang mengaitkan aktivitas Anak Krakatau dengan ancaman tsunami.

“Masyarakat harus mematuhi rekomendasi petugas dan tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi,” kata Suwarno.

Ia juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang serta arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

CCTV Pemantau Dilaporkan Tidak Beroperasi

Dalam laporan pengamatan periode Kamis (29/10/2026) pukul 00.00–06.00 WIB, petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono, melaporkan gunung tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati.

Cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan hingga hujan, dengan angin lemah bertiup ke arah barat laut. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa CCTV pemantau di lapangan tidak beroperasi.

Pada periode yang sama, petugas mencatat satu gempa hembusan dengan amplitudo 44 milimeter dan durasi 38 detik, satu gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 48 milimeter dan durasi delapan detik, serta satu gempa hybrid dengan amplitudo 39 milimeter dan durasi 16 detik.

Selain itu, terekam tremor menerus dengan amplitudo 5–35 milimeter dan amplitudo dominan 10 milimeter.

Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk mengandalkan informasi resmi dari petugas pemantauan gunung api. Warga di wilayah pesisir Lampung dan Banten diimbau tetap waspada tanpa terpancing kabar yang tidak jelas sumbernya.

Masyarakat dapat mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui otoritas pemantauan gunung api dan BPBD setempat, serta segera mematuhi arahan petugas apabila terdapat perubahan rekomendasi keselamatan.

BagikanBagikan berita ini ke teman Anda

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy