
JAKARTA, SOCIALOUD.ID — Konser rapper dan produser musik asal Amerika Serikat, Kanye West atau Ye, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi hingga Rp450 miliar. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi bisnis di balik penyelenggaraan konser musisi internasional di Indonesia.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, penjualan tiket konser Ye mencapai sekitar Rp328 miliar. Sementara itu, dampak ekonomi secara keseluruhan diperkirakan menyentuh Rp450 miliar setelah memperhitungkan aktivitas ekonomi lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan acara.
“Sedangkan untuk dampak konser dari Ye, dari penjualan tiket sendiri, jadi hanya dari penjualan tiket adalah Rp328 miliar,” ujar Pramono, dikutip dari detikcom.
Konser yang berlangsung pada Sabtu (24/10/2026) tersebut turut menggerakkan aktivitas usaha di luar industri musik. Pengeluaran pengunjung untuk hotel, transportasi, makanan dan minuman, serta belanja selama berada di Jakarta menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang menyertai acara.
Perputaran Uang Meluas ke Sektor Usaha
Besarnya dampak ekonomi konser memperlihatkan bahwa penyelenggaraan acara musik berskala internasional melibatkan rantai bisnis yang cukup panjang.
Promotor dan penyelenggara memperoleh pendapatan dari penjualan tiket serta kerja sama komersial. Di sisi lain, sektor perhotelan dan transportasi berpeluang memperoleh tambahan permintaan dari penonton yang datang dari luar kota maupun luar negeri.
Sektor makanan dan minuman, pusat perbelanjaan, serta pelaku usaha di sekitar lokasi acara juga berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas pengunjung.
Efek ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan konser berskala besar memiliki nilai strategis bagi kota penyelenggara. Aktivitas bisnis tidak hanya berlangsung selama pertunjukan, tetapi juga dapat muncul sebelum dan sesudah acara, seiring kedatangan serta kepulangan penonton.
Meski demikian, nilai dampak ekonomi sebesar Rp450 miliar yang disampaikan pemerintah daerah perlu dibedakan dari pendapatan bersih penyelenggara maupun keuntungan yang diterima setiap sektor usaha. Besarnya manfaat yang benar-benar diperoleh pelaku bisnis bergantung pada struktur biaya, distribusi belanja pengunjung, serta metode penghitungan dampak ekonomi yang digunakan.
Indonesia Punya Peluang di Pasar Konser Internasional
Konser Ye di Jakarta pada 24 Oktober 2026 menjadi salah satu momentum bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pasar pertunjukan musik internasional. Dalam laporan yang menjadi bahan pemberitaan, Indonesia disebut sebagai satu-satunya lokasi penampilan Ye di kawasan Asia Tenggara dan Oseania.
Bagi industri event, kedatangan musisi kelas dunia membuka peluang bagi promotor lokal, penyedia jasa produksi panggung, perusahaan penyewaan peralatan, tenaga kreatif, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.
Pasar domestik yang besar dapat menjadi modal untuk menarik pertunjukan internasional. Namun, peluang tersebut juga bergantung pada kesiapan infrastruktur, kepastian perizinan, keamanan, kualitas produksi, transportasi, dan kapasitas akomodasi.
Dari perspektif bisnis, keberhasilan mendatangkan musisi internasional tidak cukup diukur dari besarnya penjualan tiket. Kemampuan menciptakan kemitraan komersial, melibatkan pemasok lokal, menjaga efisiensi biaya, serta mendorong belanja pengunjung juga menentukan seberapa luas manfaat ekonomi yang tercipta.
Konser Ye memperlihatkan potensi ekonomi industri pertunjukan di Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang tersebut berkembang menjadi ekosistem bisnis yang berkelanjutan, bukan hanya perputaran uang sesaat dari satu acara besar.



Laisser un commentaire
Votre adresse e-mail ne sera pas publiée. Les champs obligatoires sont marqués *