
LEBAK,Socialoud.Id — Sisa permukiman Kampung Somang di Kabupaten Lebak, Banten, kembali terlihat setelah permukaan air Waduk Karian menyusut. Dinding-dinding rumah yang sebelumnya terendam kini muncul di tengah hamparan tanah kering dan retak-retak, memperlihatkan jejak kehidupan warga sebelum kawasan tersebut menjadi bagian dari waduk.
Fenomena ini terlihat dalam dokumentasi pada Jumat (23/10/2026). Selain sisa rumah, bangunan Masjid Al Mujahidin juga kembali tampak di antara permukiman yang dahulu ditinggalkan untuk pembangunan Bendungan Karian. <Cite refs={["turn241899search1","turn241899search2"]}/>
Warga mulai meninggalkan Kampung Somang pada 2023 untuk proses penggenangan waduk. Meski kawasan tersebut kemudian terendam, bangunan-bangunan di sana tidak seluruhnya dihancurkan. Kondisi itu membuat sebagian struktur rumah masih dapat terlihat ketika permukaan air turun.
Kampung Somang bukan satu-satunya permukiman yang terdampak pembangunan waduk. Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang juga termasuk kawasan yang ditinggalkan untuk proyek tersebut. Di Kampung Karian, warga mulai mengosongkan permukiman sejak 2021 dan sebagian membongkar material bangunan yang masih bisa digunakan kembali. <Cite refs={["turn241899search2"]}/>
El Niño dan Faktor Penyusutan Air Waduk
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono Perwira Sakti, menjelaskan bahwa kemunculan kembali bekas permukiman terjadi karena permukaan air waduk turun hingga berada di bawah elevasi kawasan tersebut.
Menurut Daryono, fluktuasi muka air merupakan bagian dari dinamika hidrologi waduk. Namun, penyusutan yang sangat ekstrem hingga memperlihatkan kawasan yang biasanya terendam dapat menjadi indikasi defisit air yang serius. <Cite refs={["turn241899search3"]}/>
Fenomena El Niño dapat meningkatkan risiko kekeringan karena berkaitan dengan berkurangnya curah hujan, terutama pada musim kemarau. Meski demikian, penyusutan Waduk Karian tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor.
Daryono menyebut sejumlah faktor yang dapat memengaruhi volume air waduk, antara lain berkurangnya curah hujan, menurunnya debit sungai yang memasok waduk, meningkatnya penguapan, serta penggunaan air untuk kebutuhan domestik, pertanian, industri, dan operasional waduk.
Secara hidrologis, volume waduk dipengaruhi keseimbangan antara air yang masuk dan air yang keluar. Ketika pasokan air lebih kecil daripada jumlah air yang dilepas dan hilang melalui penguapan maupun rembesan, volume tampungan dapat terus menurun.
Untuk mengetahui besarnya kontribusi masing-masing faktor terhadap penyusutan Waduk Karian, diperlukan data curah hujan di daerah aliran sungai (DAS), debit air masuk, pelepasan air, dan elevasi waduk.
Tanah Retak Menjadi Tanda Pengeringan
Selain bangunan yang kembali terlihat, permukaan tanah di Kampung Somang tampak retak-retak. Menurut penjelasan Daryono, retakan tersebut dapat terbentuk ketika tanah yang sebelumnya jenuh air kehilangan kelembapan dan mengalami penyusutan volume.
Proses pengeringan itu menimbulkan tegangan pada tanah hingga permukaannya pecah dan membentuk pola retakan. Gejala ini dikenal sebagai desiccation cracks atau retakan akibat pengeringan.
Kondisi tersebut memperlihatkan perubahan lingkungan di kawasan yang sebelumnya berada di bawah genangan waduk.
Kemunculan Kampung Somang Bersifat Sementara
Kembalinya sisa permukiman ke permukaan tidak berarti kawasan itu dapat kembali dihuni seperti semula. Jika elevasi air waduk naik hingga melampaui ketinggian bekas permukiman, kawasan tersebut berpotensi kembali terendam.
Daryono mengingatkan bahwa berakhirnya El Niño tidak otomatis membuat waduk segera penuh. Pemulihan volume air bergantung pada intensitas dan durasi hujan di daerah tangkapan air, peningkatan debit sungai, serta besarnya pengambilan air dari waduk. <Cite refs={["turn241899search3"]}/>
Karena itu, waktu kembalinya Kampung Somang terendam belum dapat dipastikan tanpa data terkini mengenai elevasi waduk, ketinggian bekas permukiman, dan proyeksi neraca air.
Dalam menghadapi kekeringan, Daryono menyarankan pengelola waduk memanfaatkan prakiraan iklim musiman, memantau debit sungai dan volume tampungan secara berkala, serta mengatur pelepasan air berdasarkan skala prioritas.
Konservasi hutan dan daerah tangkapan air juga diperlukan untuk menjaga fungsi hidrologis DAS. Sementara itu, kebutuhan air minum dan sanitasi masyarakat perlu diprioritaskan ketika cadangan air menipis.
Kemunculan kembali Kampung Somang menjadi pengingat bahwa ketahanan air tidak cukup bergantung pada pembangunan waduk besar. Pengelolaan sumber daya air, konservasi daerah tangkapan air, diversifikasi sumber air, dan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan air.



Bir yorum bırakın
E-posta adresiniz yayınlanmayacaktır. Gerekli alanlar * ile işaretlenmiştir