
Socialoud.id - Legenda tenis Amerika Serikat, Venus Williams, kembali menelan kekalahan setelah takluk dari petenis muda Austria, Lilli Tagger, pada babak Guangzhou Open, Selasa. Petenis berusia 46 tahun itu kalah dua set langsung dengan skor 2-6, 2-6 dari Tagger yang baru berusia 18 tahun.
Hasil tersebut memperpanjang catatan buruk Williams menjadi 16 kekalahan beruntun di nomor tunggal. Mantan petenis nomor satu dunia itu terakhir kali meraih kemenangan pada Juli 2025 dan kini menempati peringkat ke-599 dunia.
Pertandingan ini juga mencatatkan kesenjangan usia 28 tahun antara kedua pemain. Selisih tersebut menjadi yang terbesar dalam pertandingan WTA sepanjang dekade ini dan termasuk salah satu yang paling mencolok dalam sejarah tur profesional.
Kekalahan terbaru Williams kembali memunculkan perdebatan mengenai pemberian wildcard kepada sang legenda. Sejumlah pihak menilai kesempatan tersebut seharusnya diberikan kepada petenis muda yang tengah berjuang membangun karier. Namun, penyelenggara turnamen melihat kehadiran Williams masih memiliki daya tarik komersial yang besar.
Antusiasme penonton di Guangzhou menjadi bukti bahwa nama besar Williams belum kehilangan pesonanya. Petenis pemilik tujuh gelar Grand Slam tunggal tersebut mendapat dukungan meriah sepanjang pertandingan, termasuk tepuk tangan panjang ketika meninggalkan lapangan.
Menariknya, Williams telah meraih enam gelar Grand Slam tunggal dan 30 trofi WTA sebelum Tagger lahir pada Februari 2008. Bahkan, pelatih Tagger, Francesca Schiavone, yang merupakan mantan petenis nomor empat dunia dan juara French Open 2010, memiliki usia yang sama dengan Williams.
Schiavone sendiri pernah delapan kali berhadapan dengan Williams sepanjang karier profesionalnya, tetapi tidak sekalipun berhasil mengalahkan petenis Amerika tersebut.
Tagger mengaku sempat gugup sekaligus antusias ketika mengetahui akan menghadapi salah satu legenda terbesar tenis dunia.
"Saat melihat hasil undian, saya sangat bersemangat sekaligus sedikit gugup. Saya sangat menghormatinya. Lucu juga karena dia pernah bermain melawan pelatih saya. Saya ingin bisa bermain di usia seperti ini. Saya ingin memberikan apresiasi kepadanya," ujar Tagger.
Meski kalah dengan skor cukup telak, Williams tetap memberikan perlawanan. Namun, kualitas permainan Tagger terbukti terlalu tangguh bagi sang veteran.
Juara French Open junior 2025 itu tampil impresif, terutama melalui servisnya. Tagger hanya kehilangan tujuh poin dari servis sendiri dan tidak sekalipun menghadapi break point sepanjang pertandingan.
Di sisi lain, Williams kesulitan mengimbangi permainan agresif lawannya. Tagger berhasil mematahkan servis Williams dua kali pada masing-masing set, sekaligus mengendalikan jalannya pertandingan melalui pukulan-pukulan groundstroke yang kuat dari kedua sisi lapangan.
Williams memang masih menunjukkan kualitas servis dan semangat kompetitif yang menjadi ciri khasnya. Ia bahkan mampu menyelamatkan 12 dari 16 peluang break point yang didapatkan Tagger.
Namun, pengalaman dan determinasi saja belum cukup untuk membendung perkembangan petenis muda tersebut. Kekalahan ini kembali memperlihatkan tantangan besar yang harus dihadapi Williams untuk bersaing dengan generasi baru di level tertinggi tenis dunia.



Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *