JAKARTA, SOCIALOUD.ID — Kepalan tangan terangkat di udara, mikrofon berada dalam genggaman, sementara suara lantangnya menggema di tengah ratusan mahasiswa. Sosok Zahra Nazira Firman menjadi perhatian saat memimpin ikrar sumpah mahasiswa dalam aksi demonstrasi Universitas Trisakti di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu berdiri di atas mobil komando dan meminta seluruh peserta aksi untuk berdiri. Ia kemudian memimpin pengucapan sumpah mahasiswa Indonesia yang diikuti serentak oleh massa demonstran.
“Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan, bahasa tanpa kepalsuan,” seru Zahra.
Ikrar tersebut ditutup dengan pekikan, “Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!” yang disambut suara lantang para peserta aksi.
Momen orasi itu kemudian ramai beredar di media sosial. Keberanian Zahra menyampaikan aspirasi dari atas mobil komando turut menuai pujian dan perhatian warganet.
Rekam Jejak Organisasi Sejak Sekolah
Sorotan terhadap Zahra tidak hanya berkaitan dengan penampilannya saat berorasi. Perjalanan organisasinya juga menjadi bagian dari profil yang menarik perhatian publik.
Mengutip informasi dari akun Instagram pribadinya, @zaranzrr, Zahra telah aktif dalam organisasi sejak duduk di bangku sekolah.
Pada 2018, ia dipercaya menjadi Ketua OSIS SMP Alexandria Islamic School. Pengalaman tersebut berlanjut ketika ia kembali memimpin OSIS SMA Alexandria Islamic School pada periode 2021–2022.
Memasuki dunia perguruan tinggi, Zahra tetap aktif dalam kegiatan organisasi dan pengembangan kemampuan akademiknya.
Pada periode 2024–2025, ia menjadi staf Kementerian Hukum dan Perundang-Undangan di Kementerian Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti. Pada periode yang sama, ia juga tercatat sebagai anggota Divisi Mahasiswa Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Universitas Trisakti.
Keterlibatannya berlanjut pada periode 2025–2026 sebagai staf Biro Kemahasiswaan BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
Zahra juga pernah menjadi delegasi dalam Kompetisi Debat Hukum Nasional SJLF II yang diselenggarakan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
Rangkaian pengalaman tersebut mengantarkannya dipercaya menjadi Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti periode 2026–2027.
Pimpin Ikrar Sumpah Mahasiswa
Dalam aksi pada Kamis tersebut, Zahra tidak hanya menyampaikan orasi, tetapi juga mengajak mahasiswa mengikrarkan sumpah sebagai bentuk komitmen terhadap nilai keadilan dan penolakan terhadap penindasan.
Aksi mahasiswa Trisakti membawa tiga tuntutan utama atau Tritura. Pertama, memulihkan kondisi ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional.
Kedua, memberantas inkompetensi serta menghapus rangkap jabatan pejabat publik. Ketiga, mengembalikan supremasi sipil.
Dalam orasinya, Zahra turut menyoroti persoalan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok. Ia menilai hak-hak tersebut telah dijamin konstitusi, tetapi masih banyak masyarakat yang menghadapi kesulitan untuk mendapatkannya.
Ia juga menyinggung persoalan lingkungan dan kondisi masyarakat yang terdampak berbagai masalah ekologis. Menurutnya, tuntutan yang dibawa mahasiswa merupakan dasar untuk mengawal perbaikan kondisi nasional.
Kecewa Tak Bisa Menyampaikan Aspirasi di Istana
Perjalanan mahasiswa Trisakti menuju titik aksi juga diwarnai sejumlah hambatan. Massa yang semula berencana menyampaikan aspirasi di kawasan Istana Kepresidenan akhirnya menggelar demonstrasi di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepatnya di sekitar Gedung BSI Tower.
Zahra mengatakan mahasiswa mulai bergerak dari kampus sekitar pukul 14.00 WIB dan tiba di lokasi aksi sekitar pukul 16.00 WIB.
Ia mengaku kecewa karena mahasiswa tidak dapat mencapai titik aksi yang direncanakan sejak awal.
“Ini perjalanan terpanjang yang pernah kita jalanin dari kampus sampai ke titik ini, karena harusnya kita titik aksi itu di Istana,” kata Zahra.
Dalam perjalanan, massa sempat berhadapan dengan barisan aparat kepolisian yang membawa tameng. Mahasiswa juga melakukan aksi diam di kawasan Thamrin sebagai bentuk penyampaian aspirasi.
Zahra menegaskan bahwa mahasiswa datang untuk menyampaikan aspirasi sebagai bagian dari masyarakat yang peduli terhadap berbagai persoalan publik.
Aksi tersebut menjadi salah satu panggung bagi Zahra untuk menyuarakan tuntutan mahasiswa. Orasi dan ikrar sumpah yang dipimpinnya kemudian menjadi momen yang ramai diperbincangkan, sekaligus membuat sosok Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu mendapat perhatian lebih luas.



Để lại bình luận
Địa chỉ email của bạn sẽ không được công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *